Saturday, July 29, 2017

Cerpen : Peri-peri Berjatuhan dari Pohon Cemara

Cerpen ini dimuat Tribun Jabar, Minggu 23 Juli 2017.
Cerpen Artie Ahmad


Perempuan itu jatuh dari rimbunan daun cemara yang tumbuh di depan Balai Kota. Kulitnya yang putih mulus berbalut gaun sutra hijau tampak bersinar. Tengkuk, kening, betis, dan pergelangan tangannya memancarkan cahaya terang berwarna putih sedikit kebiru-biruan. Orang-orang berkerumun, mengamati perempuan itu dengan saksama.

“Dari mana dia tadi? Masa jatuh dari atas pohon?” seorang pemuda yang setengah mabuk tuak mendongak ke atas rimbunan cemara.

“Tapi memang jatuh dari atas kok. Aku lihat sendiri tadi,” tukang becak yang sering mangkal di depan Balai Kota menimpali.

“Lihat! Betisnya bersinar. Jangan-jangan dia utusan Ken Dedes,” seorang pegawai kelurahan yang juga berada di sana sedikit berseru.

“Ngaco! Emangnya Ken Dedes betisnya bersinar? Sok tahu!”

“Iya. Memang cerita di Pararaton seperti itu. Ken Dedes betisnya bersinar. Cakepnya nggak ketulungan, sampai-sampai diberi hutan Baboji oleh Tunggul Ametung sebagai tanda cinta,”

“Alah, itu kan cerita dongeng. Percaya amat. Mendingan percaya sama yang ini, nyata di depan mata! Tapi dia ini manusia atau bukan sih? Kok tubuhnya bersinar gitu?”

“Sudah diam! Dia kelihatannya mulai siuman tuh.”

Warga yang mengerumuni perempuan itu memasang wajah tegang. Perempuan yang molek itu menggeliat. Tak berselang lama akhirnya dia benar-benar tersadar. Wajahnya yang cantik mendongak, memandangi satu per satu manusia yang mengerubunginya.

“Siapa kamu? Dari mana asalmu?” seorang wanita berbadan gempal bertanya.

“Aku peri. Aku datang dari cahaya. Aku bukan pezina. Dosa menimpa siapa saja yang menuduh seorang gadis murni sebagai pezina!”

Semua orang yang mendengar ucapan perempuan itu melongo. Semuanya tertegun bingung. Terlebih tak lama setelah itu, perempuan yang jatuh dari pohon cemara itu berubah wujud. Tubuh yang molek gemulai menjelma menjadi bola cahaya, sinarnya tajam bersinar, berwarna putih kebiru-biruan. Bola cahaya itu sebesar bola sepak. Dia beterbangan mengelilingi Balai Kota, meliuk-liuk di antara rerantingan pohon.

Orang-orang mengikuti ke mana perginya bola cahaya. Bola cahaya jelmaan peri itu terbang masuk ke sebuah rumah. Menerobos jendela tanpa teralis. Benturan di kaca membuat kaca jendela pecah berhamburan. Bola cahaya itu masuk ke dalam, menerobos pintu kamar yang separuh terbuka. Dia berputar-putar di atas kepala gadis yang sedang tenggelam dalam tangis. Bola cahaya itu melesat masuk ke dalam tubuh si gadis. Tubuh gadis yang sudah disekap di dalam kamar selama seminggu itu bersinar. Kening, tengkuk, betis, dan pergelangan tangannya bersinar berwarna putih kebiru-biruan.

Gadis itu mendapat hukuman dikucilkan sejak seminggu yang lalu. Dia dituduh warga kota sebagai pezina. Mereka mendapati sang gadis sedang dipaksa berhubungan intim di balik semak-semak taman kota oleh seorang pemuda yang mengaku kekasihnya. Padahal sang gadis korban percobaan pemerkosaan. Dia sama sekali tak mengenal pemuda yang membekap dan memaksanya. Warga kota tak percaya. Sang gadis diseret dan dijadikan tontonan di Balai Kota. Tak kuat menanggung malu, kedua orang tuanya menjatuhi hukuman. Penyekapan. Tujuh hari tujuh malam gadis malang itu meratap dalam tangis. Doa-doa tak pernah putus dari bibirnya.

Warga kota terperangah tatkala melihat tubuh sang gadis bersinar terang. Terlebih ketika secara perlahan, tubuh gadis yang dituduh sebagai pezina itu melayang, lalu melesat terbang ke langit. Hilang lesap di antara awan-awan.

Semua orang yang melihat kejadian itu membisu. Gadis itu beberapa waktu lalu masih berseru, dia masih suci, bukan seorang pezina seperti yang mereka tuduhkan. Tapi keadilan tak diberikan, bahkan dari orang tuanya sendiri.

*

Keesokan harinya, satu peri ditemukan lagi terjatuh dari rimbunan daun cemara yang tumbuh di depan Balai Kota. Orang-orang tak perlu lagi bertanya dia dari mana. Peri itu masih bersinar seperti peri sebelumnya.

“Imam yang lurus dihina, dicaci dan dihukum dalam fitnah. Dosa besar bagi kalian kaum pembenci!”

Setelah berujar seperti itu, peri berwujud perempuan cantik yang bersinar menjelma menjadi bola cahaya. Dia terbang, meliuk-liuk di jalanan kota. Orang-orang mengejarnya, mereka ingin tahu siapa kali ini yang akan dia pilih untuk diajak terbang ke langit.

Bola cahaya masuk ke dalam ruang baca Sang Imam. Melesat cepat, membentur dada imam kota yang memiliki kesabaran seluas samudera. Sang Imam terperanjat, tapi kemudian tak bisa berbuat apa-apa. Kening, tengkuk, betis dan pergelangan tangannya bersinar terang, putih kebiru-biruan. Beberapa murid yang berada di dekatnya kebingungan.

Sudah beberapa hari belakangan Sang Imam dituduh sebagai pembelot oleh warga kota. Sebab dari segala fitnah yang menimpa dirinya berawal tatkala Sang Imam mencegah arak-arakan warga yang akan menghakimi pemimpin kota yang dituduh melakukan korupsi, padahal sama sekali tuduhan itu tak terbukti. Suara teriakan yang menyebut nama Tuhan terdengar di sepanjang jalan. Diteriakkan dengan lantang oleh warga yang berarak menuju Balai Kota.

“Imam itu sekarang sudah bengkok. Dia pasti dibayar uang oleh pemimpin pencuri itu dengan mahal. Hingga dia mau menjadi tameng!” cecar seorang pengusaha yang berencana ikut pemilihan umum untuk menjadi pemimpin baru selanjutnya.

“Sesat! Sungguh sesat! Imam seperti dia bisa berpihak kepada pembohong,” timpal yang lain dengan nada marah.

“Ya, imam kita itu kini telah bengkok, tak lurus seperti dulu. Sesat semua yang dia ajarkan. Dia tak bisa lagi dijadikan panutan!”

Sang Imam terdiam. Ilmu yang dimilikinya memberi pengajaran tentang kesabaran dan memaafkan, menahan dirinya agar tak tersentuh amarah.

“Tak akan pernah kedamaian tercipta dalam ramuan kemarahan, benci bahkan fitnah. Pulanglah, Saudara-saudara. Esok, jika pemimpin kita terbukti benar-benar melakukan kesalahan, barulah kalian boleh memberi pengajaran kepadanya. Tapi dia nyatanya tak terbukti mencuri. Aku mengenal pemimpin kita itu dengan baik, dia salah satu manusia yang jujur. Tuduhan tak bisa dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang.” Ucap Sang Imam dengan suara jernih. Sama sekali tak ada kemarahan di nada ataupun di raut wajahnya.

“Halah! Dasar antek pencuri kau ini. Pergilah, kami tak percaya lagi dengan imam sepertimu! Imam mata duitan. Dasarnya sudah bengkok, bengkok sajalah!” pengusaha itu menuding Sang Imam dengan jari telunjuknya.

Sang Imam kembali ke rumahnya dengan hampa. Selepas kepergiannya, pengusaha yang tadi mencercanya mulai merangkai serangkaian fitnah yang ditujukan kepada Sang Imam. Jari-jemari liar yang buasnya melebihi harimau itu menari-nari di atas layar gawai berukuran 5 inci. Lewat sarana media sosial dia mengumbar kebencian, fitnah, yang kemudian mengundang caci maki dan hinaan yang ditujukan kepada Sang Imam. Kepala-kepala berakal pendek segera berasap lantaran terbakar kebencian. Sang Imam bertubi-tubi mendapat hinaan dan segala macam fitnah yang tak berkesudahan.

Puncak dari aksi kebencian itu sehari sebelum bola cahaya menembus dada Sang Imam. Sepulang membeli kue di pasar, seseorang meludahi Sang Imam yang penyabar. Murid yang mengantar Sang Imam menangis tersedu-sedu sembari membersihkan ludah yang mengotori lengan gurunya.

“Tak usah menangis. Jika meludahi orang yang dibenci bisa sedikit meredekan kebencian di hati mereka yang sedang terbakar lantaran benci, aku tak akan menjadikan hal itu sebagai masalah berat yang akan membebani hatiku,” Sang Imam berbicara dengan suara rendah tatkala melihat muridnya menangis tersedu-sedu.

“Tapi sampai kapan guru akan direndahkan oleh warga kota ini? Kenapa Tuhan membiarkan mereka menjadi pembenci dan pemberang? Benarkah cara mereka, membenci atas nama Tuhan yang mereka sembah?”

“Tuhan akan membantu kita. Tak perlu khawatir, kebenaran akan datang secara terang benderang. Dan Tuhan terlalu suci untuk disentuh kebencian.”

Warga kota yang melihat Sang Imam bersinar tertegun. Kebencian yang selama ini meluap-luap lebur seketika. Terlebih ketika tubuh Sang Imam yang bersinar itu terbang, melesat ke langit, dan tak kembali. Murid-murid Sang Imam menangis meraung-raung. Ratusan kepala yang pernah mencaci dan menfitnah Sang Imam menunduk lantaran malu dan kecewa terhadap diri mereka sendiri.

*

Sehari setelah Sang Imam dibawa terbang ke langit, satu peri jatuh lagi dari rimbunan pohon cemara di depan Balai Kota. Tak lama kemudian dia berubah menjadi bola cahaya yang bersinar putih kebiru-biruan. Bola cahaya itu melesat terbang di tengah ramainya pasar. Meliuk-liuk di gang-gang sempit, lalu menerobos masuk ke dalam sebuah gubuk reyot yang nyaris ambruk di bawah jembatan. Bola cahaya itu masuk ke dalam perut lelaki renta yang napasnya tinggal satu-satu. Lelaki tua itu nyaris sampai ke titik akhir hidupnya. Dia kelaparan, kedinginan, sudah dua hari kepalanya terasa hampir lepas dari leher, namun tak ada satu pun warga kota yang peduli. Kening, tengkuk, betis dan pergelangan tangan lelaki tua miskin itu bersinar terang, putih kebiru-biruan. Tak lama kemudian lelaki tua miskin itu melayang-layang, lalu terbang melesat ke langit.

Semakin hari, semakin kerap peri yang jatuh dari rimbunan pohon cemara di depan Balai Kota. Bola-bola cahaya sebesar bola sepak sering terlihat melayang-layang di sudut-sudut kota, membawa terbang orang-orang yang dipilih. Cahaya putih kebiru-biruan menjadi sinar yang tak asing di mata warga kota.

Seiring berjalannya waktu, peri-peri tak hanya berjatuhan di pohon cemara Balai Kota. Di kota tetangga pun mulai berjatuhan peri-peri dari pohon cemara. Sampai akhirnya di seluruh penjuru negeri, peri-peri berjatuhan dari rimbunya pohon cemara, lalu berubah menjadi bola cahaya sebesar bola sepak yang membawa terbang orang-orang yang tak kunjung mendapat keadilan untuk dibawa ke langit.

***

Artie Ahmad lahir di Salatiga 21 November 1994. Saat ini juga berdomisili di Salatiga.
Load disqus comments

0 komentar